Minggu, 14 Desember 2008

CONCEPT MAPPING

Konsep Pemetaan

Ilmuwan sosial telah mengembangkan beberapa metode dan proses yang mungkin berguna dalam membantu Anda untuk merumuskan sebuah proyek penelitian. Saya akan termasuk di antara ini setidaknya berikut - Brainstorming, brainwriting, nominal teknik grup, kelompok fokus, dicegah pemetaan, teknik Delphi, segi teori, dan analisis kualitatif teks. Di sini, saya akan menunjukkan Anda metode yang telah dikembangkan, disebut konsep pemetaan, yang sangat berguna untuk penelitian formulasi masalah.
Konsep pemetaan adalah metode umum yang dapat digunakan untuk membantu setiap individu atau kelompok untuk menjelaskan ide mereka tentang beberapa topik dalam bentuk gambar-gambar. Ada beberapa jenis metode yang saat ini semua pergi dengan nama seperti "konsep pemetaan", "pemetaan mental" atau "konsep anyaman." Semua dari mereka adalah mereka yang serupa dalam menghasilkan gambar dari seseorang gagasan. Tetapi jenis konsep pemetaan saya ingin menjelaskan di sini adalah berbeda dalam beberapa cara penting. Pertama adalah terutama kelompok dan proses sehingga sangat baik cocok untuk situasi di mana tim atau kelompok stakeholder harus bekerja sama. Metode lain yang bekerja terutama dengan individu. Kedua, yang sangat terstruktur menggunakan pendekatan difasilitasi. Terdapat langkah-langkah khusus yang diikuti oleh seorang petugas fasilitator dalam membantu kelompok untuk demonstrasi dengan ide dan memahami mereka lebih jelas. Ketiga, inti dari konsep pemetaan terdiri dari beberapa negara-of-the-seni multivarian statistik metode yang menganalisis masukan dari semua orang dan hasil produk yang agregat grup. Dan keempat, metode yang memerlukan penggunaan komputer program khusus yang dapat menangani data dari jenis ini dan menyelesaikan proses analisis yang benar dan pemetaan prosedur.
Walaupun konsep pemetaan merupakan metode umum, khususnya sangat berguna untuk membantu sosial dan penelitian tim peneliti dan mengembangkan ide-ide untuk penelitian detail. Dan, itu sangat berharga bila peneliti ingin melibatkan kelompok stakeholder yang relevan dalam bertindak untuk menciptakan projek. Walaupun konsep pemetaan digunakan untuk berbagai tujuan - perencanaan strategis, pengembangan produk, analisis pasar, pengambilan keputusan, pengukuran pembangunan - di sini kami berkonsentrasi pada itu potensi untuk membantu peneliti merumuskan projek-projek mereka.
Jadi apa saja yang konsep pemetaan? Pada dasarnya, konsep pemetaan merupakan proses terstruktur, difokuskan pada topik atau dibagi dalam minat, melibatkan masukan dari satu atau lebih peserta, yang memproduksi sebuah interpretable melihat gambar-gambar (peta konsep) dari masing-ide dan konsep dan bagaimana ini saling terkait. Konsep pemetaan membantu orang untuk berpikir lebih efektif sebagai kelompok tanpa kehilangan kepribadian masing-masing. Ia membantu kelompok untuk mengelola kompleksitas ide-ide mereka tanpa trivializing atau mereka kehilangan detail.


Sebuah konsep proses pemetaan melibatkan enam langkah yang dapat mengambil tempat dalam satu hari atau dapat tersebar lebih dari minggu atau bulan tergantung pada situasi. Langkah pertama adalah Persiapan Langkah. Ada tiga hal yang dilakukan di sini. Fasilitator dari proses pemetaan bekerja dengan inisiator (s) (yaitu, siapa saja permintaan proses awalnya) untuk mengidentifikasi para peserta yang akan. Sebuah proses pemetaan dapat memiliki ratusan atau bahkan ribuan stakeholder berpartisipasi, walaupun kami biasanya memiliki relatif kecil kelompok antara 10 dan 20 pemangku kepentingan. Kedua, inisiator bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mengembangkan fokus untuk proyek. Misalnya, grup mungkin memutuskan untuk fokus pada mendefinisikan sebuah program atau perawatan. Atau, mereka dapat memilih peta untuk semua hasil yang mereka harapkan mungkin untuk melihat sebagai hasil. Terakhir, grup memutuskan pada jadwal yang tepat untuk pemetaan. Pada Generasi Langkah para pemangku kepentingan berkembang serangkaian besar pernyataan bahwa alamat fokus. Misalnya, mereka mungkin akan menghasilkan pernyataan yang menjelaskan semua kegiatan spesifik yang akan merupakan program sosial tertentu. Atau, mereka mungkin akan menghasilkan pernyataan spesifik menjelaskan hasil yang mungkin terjadi sebagai akibat dari berpartisipasi dalam sebuah program. Berbagai jenis dari metode dapat digunakan untuk melakukannya termasuk tradisional Brainstorming, brainwriting, nominal teknik grup, kelompok fokus, analisis kualitatif teks, dan sebagainya. Grup dapat menghasilkan hingga 200 pernyataan dalam konsep pemetaan proyek. Dalam Penataan Langkah peserta melakukan dua hal. Pertama, setiap peserta yang sehat ke dalam tumpukan pernyataan yang serupa. Kebanyakan mereka lakukan kali ini diadakan oleh sebuah dek dari kartu yang memiliki satu pernyataan pada masing-masing kartu. Namun mereka juga dapat melakukannya secara langsung pada komputer dengan pernyataan seret ke dalam tumpukan yang membuat mereka. Mereka dapat memiliki beberapa atau sebagai banyak tumpukan karena ingin. Setiap peserta nama masing-masing timbunan dengan label deskriptif singkat. Kedua, setiap peserta dari harga setiap pernyataan pada beberapa skala. Biasanya adalah nilai pada 1-ke-5 untuk skala mereka relatif pentingnya, di mana 1 adalah pernyataan relatif tidak penting dibandingkan dengan semua sisanya, 3 yang berarti bahwa cukupan penting, dan 5 berarti sangat penting. Langkah yang Perwakilan adalah dimana analisis dilakukan - ini adalah proses merampas mengurutkan dan penilaian dan masukan "mewakili" dalam bentuk peta. Ada dua utama analisis statistik yang digunakan. Pertama - multidimensional scaling - mengambil data menyortir semua peserta dan mengembangkan dasar peta di mana setiap pernyataan adalah sebuah titik pada peta dan pernyataan yang bertumpuk bersama dengan orang yang lebih dekat dengan satu sama lain pada peta. Kedua analisis - analisis kelompok - mengambil output yang multidimensional scaling (titik peta) dan partisi peta ke grup pernyataan atau gagasan, menjadi kelompok. Jika pernyataan menjelaskan kegiatan program, yang menunjukkan bagaimana kelompok ini dapat dikelompokkan ke dalam kelompok logis dari kegiatan. Jika pernyataan hasil yang spesifik, kelompok yang mungkin dilihat sebagai hasil konstruksi atau konsep. Dalam langkah kelima - yang Interpretasi Langkah - fasilitator bekerja dengan kelompok pemangku kepentingan untuk membantu mereka mengembangkan sendiri label dan interpretasi untuk berbagai peta. Terakhir, yang melibatkan Pemanfaatan Langkah menggunakan peta untuk membantu alamat asli fokus. Di samping program, peta yang dapat digunakan sebagai kerangka visual untuk operationalizing program. pada hasil sisi, mereka dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan langkah-langkah dan menampilkan hasil.
Ini adalah satu-satunya yang sangat dasar untuk pengenalan konsep pemetaan dan menggunakan. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang metode ini, Anda mungkin melihat beberapa artikel saya telah menulis tentang konsep pemetaan, termasuk Sebuah Pengenalan Konsep Pemetaan, Pemetaan Konsep: Hard Soft Sains atau Seni?, Atau tulisan berjudul Menggunakan Konsep Pemetaan untuk Mengembangkan Conceptual Framework Staf's Pandangan yang didukung Program Pekerjaan untuk Orang dengan Berat Penyakit Mental.

Rabu, 10 Desember 2008

DELPHI METHOD

DELPHI METHOD

Definition and Historical Background

The objective of most Delphi applications is the reliable and creative exploration of ideas or the production of suitable information for decision making. The Delphi Method is based on a structured process for collecting and distilling knowledge from a group of experts by means of a series of questionnaires interspersed with controlled opinion feedback (Adler and Ziglio, 1996). According to Helmer (1977) Delphi represents a useful communication device among a group of experts and thus facilitates the formation of a group judgement. Wissema (1982) underlines the importance of the Delphi Method as a monovariable exploration technique for technology forecasting. He further states that the Delphi method has been developed in order to make discussion between experts possible without permitting a certain social interactive behavior as happens during a normal group discussion and hampers opinion forming. Baldwin (1975) asserts that lacking full scientific knowledge, decision-makers have to rely on their own intuition or on expert opinion. The Delphi method has been widely used to generate forecasts in technology, education, and other fields (Cornish, 1977).

The technology forecasting studies which eventually led to the development of the Delphi method started in 1944. At that time General Arnold asked Theodor von Karman to prepare a forecast of future technological capabilities that might be of interest to the military (Cornish, 1977). Arnold got the Douglas Aircraft company to establish in 1946 a Project RAND (an acronym for Research and Development) to study the "broad subject of inter-continental warfare other then surface." In 1959 Helmer and fellow RAND researcher Rescher published a paper on "The Epistemology of the Inexact Sciences," which provide a philosophical base for forecasting (Fowles, 1978). The paper argued that in fields that have not yet developed to the point of having scientific laws, the testimony of experts is permissible. The problem is how to use this testimony and, specifically, how to combine the testimony of a number of experts into a single useful statement. The Delphi method recognizes human judgement as legitimate and useful inputs in generating forecasts. Single experts sometimes suffer biases; group meetings suffer from "follow the leader" tendencies and reluctance to abandon previously stated opinions (Gatewood and Gatewood, 1983, Fowles, 1978). In order to overcome these shortcomings the basic notion of the Delphi method, theoretical assumptions and methodological procedures developed in the 1950s and 1960s at the RAND Corporation. Forecasts about various aspect of the future are often derived through the collation of expert judgement. Dalkey and Helmer developed the method for the collection of judgement for such studies (Gordon and Hayward, 1968).

Fowles (1978) asserts that the word Delphi refers to the hallowed site of the most revered oracle in ancient Greece. Forecasts and advices from gods were sought through intermediaries at this oracle. However Dalkey (1968) states that the name "Delphi" was never a term with which either Helmer or Dalkey (the founders of the method) were particularly happy. Dalkey (1968) acknowledged that it was rather unfortunate that the set of procedures developed at the RAND Corporation, and designed to improve methods of forecasting, came to be known as "Delphi". He argued that the term implies "something oracular, something smacking a little of the occult", whereas, as a matter of fact, precisely the opposite is involved; it is primarily concerned with making the best you can of a less than perfect kind of information.

One of the very first applications of the Delphi method carried out at the RAND Corporation is illustrated in the publication by Gordon and Helmer (1964). Its aim was to assess the direction of long-range trends, with special emphasis on science and technology, and their probable effects on society. The study covered six topics: scientific breakthroughs; population control; automation; space progress; war prevention; weapon systems (Gordon and Helmer, 1968). The first Delphi applications were in the area of technological forecasting and aimed to forecast likely inventions, new technologies and the social and economic impact of technological change (Adler and Ziglio, 1996). In terms of technology forecasting, Levary and Han (1995) state the objective of the Delphi method as to combine expert opinions concerning the likelihood of realizing the proposed technology as well as expert opinions concerning the expected development time into a single position. When the Delphi method was first applied to long-range forecasting, potential future events were considered one at a time as though they were to take place in isolation from one another. Later on, the notion of cross impacts was introduced to overcome the shortcomings of this simplistic approach (Helmer, 1977).

According to Wissema (1982), unfortunately the Delphi method is also sometimes used for a normal inquiry among a number of experts. Delphi has found its way into industry, government, and finally, academe. It has simultaneously expanded beyond technological forecasting (Fowles, 1978). Since the 1950s several research studies have used the Delphi method, particularly in public health issues (such as, policies for drug use reduction and prevention of AIDS/HIV) and education areas (Adler and Ziglio, 1996; Cornish, 1977).

The Basics of the Delphi Method

The Delphi method is an exercise in group communication among a panel of geographically dispersed experts (Adler and Ziglio, 1996). The technique allows experts to deal systematically with a complex problem or task. The essence of the technique is fairly straightforward. It comprises a series of questionnaires sent either by mail or via computerized systems, to a pre-selected group of experts. These questionnaires are designed to elicit and develop individual responses to the problems posed and to enable the experts to refine their views as the group’s work progresses in accordance with the assigned task. The main point behind the Delphi method is to overcome the disadvantages of conventional committee action. According to Fowles (1978) anonymity, controlled feedback, and statistical response characterize Delphi. The group interaction in Delphi is anonymous, in the sense that comments, forecasts, and the like are not identified as to their originator but are presented to the group in such a way as to suppress any identification.

In the original Delphi process, the key elements were (1) structuring of information flow, (2) feedback to the participants, and (3) anonymity for the participants. Clearly, these characteristics may offer distinct advantages over the conventional face-to-face conference as a communication tool. The interactions among panel members are controlled by a panel director or monitor who filters out material not related to the purpose of the group (Martino, 1978). The usual problems of group dynamics are thus completely bypassed. Fowles (1978) describes the following ten steps for the Delphi method:

  1. Formation of a team to undertake and monitor a Delphi on a given subject.
  2. Selection of one or more panels to participate in the exercise. Customarily, the panelists are experts in the area to be investigated.
  3. Development of the first round Delphi questionnaire
  4. Testing the questionnaire for proper wording (e.g., ambiguities, vagueness)
  5. Transmission of the first questionnaires to the panelists
  6. Analysis of the first round responses
  7. Preparation of the second round questionnaires (and possible testing)
  8. Transmission of the second round questionnaires to the panelists
  9. Analysis of the second round responses (Steps 7 to 9 are reiterated as long as desired or necessary to achieve stability in the results.)
  10. Preparation of a report by the analysis team to present the conclusions of the exercise

Delbecq et al., (1975) argue that the most important issue in this process is the understanding of the aim of the Delphi exercise by all participants. Otherwise the panelists may answer inappropriately or become frustrated and lose interest. The respondents to the questionnaire should be well informed in the appropriate area (Hanson and Ramani, 1988) but the literature (Armstrong, 1978; Welty, 1972) suggest that a high degree of expertise is not necessary. The minimum number of participants to ensure a good group performance is somewhat dependent on the study design. Experiments by Brockhoff (1975) suggest that under ideal circumstances, groups as small as four can perform well.

Before deciding whether or not the Delphi method should be used, it is very important to consider thoroughly the context within which the method is to be applied (Delbecq et al. 1975). A number of questions need to be asked before making the decision of selecting or ruling out the Delphi technique (Adler and Ziglio, 1996):

  • What kind of group communication process is desirable in order to explore the problem at hand?
  • Who are the people with expertise on the problem and where are they located?
  • What are the alternative techniques available and what results can reasonably be expected from their application?

Only when the above questions are answered can one decide whether the Delphi method is appropriate to the context in which it will be applied. Adler and Ziglio (1996) further claim that failure to address the above questions may lead to inappropriate applications of Delphi and discredit the whole creative effort.

The outcome of a Delphi sequence is nothing but opinion. The results of the sequence are only as valid as the opinions of the experts who made up the panel (Martino, 1978). The panel viewpoint is summarized statistically rather than in terms of a majority vote.

The Delphi method has got criticism as well as support. The most extensive critique of the Delphi method was made by Sackman (1974) who criticizes the method as being unscientific and Armstrong (1978) who has written critically of its accuracy. Martino (1978) underlines the fact that Delphi is a method of last resort in dealing with extremely complex problems for which there are no adequate models. Helmer (1977) states that sometimes reliance on intuitive judgement is not just a temporary expedient but in fact a mandatory requirement. Makridakis and Wheelright (1978) summarize the general complaints against the Delphi method in terms of (a) a low level reliability of judgements among experts and therefore dependency of forecasts on the particular judges selected; (b) the sensitivity of results to ambiguity in the questionnaire that is used for data collection in each round; and (c) the difficulty in assessing the degree of expertise incorporated into the forecast. Martino (1978) lists major concerns about the Delphi method:

  • Discounting the future: Future (and past) happenings are not as important as the current ones, therefore one may have a tendency to discount the future events.
  • The simplification urge: Experts tend to judge the future of events in isolation from other developments. A holistic view of future events where change has had a pervasive influence cannot be visualized easily. At this point cross-impact analysis is of some help.
  • Illusory expertise: some of the experts may be poor forecasters. The expert tends to be a specialist and thus views the forecast in a setting which is not the most appropriate one.
  • Sloppy execution: there are many ways to do a poor job. Execution of the Delphi process may loose the required attention easily.
  • Format bias: it should be recognized that the format of the questionnaire may be unsuitable to some potential societal participants.
  • Manipulation of Delphi: The responses can be altered by the monitors in the hope of moving the next round responses in a desired direction.

Goldschmidt (1975) agrees that there have been many poorly conducted Delphi projects. However, he warns that it is a fundamental mistake to equate the applications of the Delphi method with the Delphi method itself, as too many critics do. There is, in fact, an important conceptual distinction between evaluating a technique and evaluating an application of a technique.

On the other hand there have been several studies (Ament, 1970; Wissema, 1982; Helmer, 1983) supporting the Delphi method. A study conducted by Milkovich et al. (1972) reports the use of the Delphi method in manpower forecasting. The results of the comparison indicated high agreement between the Delphi estimate and the actual number hired and less agreement between quantitative forecasts and the number hired. Another study by Basu and Schroeder (1977) reports similar results in a general forecasting problem. They compared Delphi forecasts of five-year sales with both unstructured, subjective forecasts and quantitative forecasts that used regression analyses and exponential smoothing. The Delphi forecasting consisted of three rounds using 23 key organization members. When compared against actual sales for the first two years, errors of 3-4% were reported for Delphi, 10-15% for the quantitative methods, and of approximately 20% for the previously used unstructured, subjective forecasts.

In general, the Delphi method is useful in answering one, specific, single-dimension question. There is less support for its use to determine complex forecasts concerning multiple factors. Such complex model building is more appropriate for quantitative models with Delphi results serving as inputs (Gatewood and Gatewood, 1983). This point is supported by Gordon and Hayward (1968) who claim that the Delphi method, based on the collation of expert judgement, suffers from the possibility that reactions between forecasted items may not be fully considered. The need for the cross impact matrix method of forecasting integrated with the Delphi method is pointed out by many researchers (Gordon and Hayward, 1968; Gatewood and Gatewood, 1983; Adler and Ziglio, 1996). An improvement in forecasting reliability over the Delphi method was thought to be attainable by taking into consideration the possibility that the occurrence of one event may cause an increase or decrease in the probability of occurrence of other events included in the survey (Helmer, 1978). Therefore cross impact analysis has developed as an extension of Delphi techniques.










TERJEMAHAN

DELPHI METHOD

Definisi dan latar belakang sejarah

Tujuan dari Delphi kebanyakan adalah aplikasi handal dan kreatif eksplorasi ide atau produksi sesuai informasi untuk pengambilan keputusan. Metode Delphi yang didasarkan pada sebuah proses terstruktur untuk mengumpulkan dan membawa pengetahuan dari sekelompok ahli dengan cara serangkaian kuesioner maupun yang dikontrol dengan pendapat umpan balik (Adler dan Ziglio, 1996). Menurut Helmer (1977) Delphi merupakan perangkat komunikasi yang berguna di antara sekelompok ahli sehingga memudahkan pembentukan kelompok itu. Wissema (1982) menekankan pentingnya dari Delphi Metode sebagai monovariable eksplorasi teknik untuk teknologi perencanaan. Ia juga menyatakan bahwa Delphi metode telah dikembangkan untuk membuat diskusi antara ahli mungkin tanpa perijinan tertentu sebagai perilaku sosial interaktif yang biasa terjadi selama grup diskusi dan hampers membentuk pendapat. Baldwin (1975) menegaskan bahwa pengetahuan ilmiah kurang lengkap, keputusan-keputusan harus bergantung pada intuisi mereka sendiri atau pada pendapat ahli. Delphi metode yang telah digunakan secara luas untuk menghasilkan prakiraan dalam teknologi, pendidikan, dan bidang lain (Cornish, 1977).

Teknologi peramalan studi yang akhirnya menyebabkan pembangunan Delphi metode ini dimulai pada 1944. Pada waktu yang diminta Umum Arnold Theodor von Karman untuk menyusun prakiraan kemampuan teknologi masa depan yang mungkin menarik untuk militer (Cornish, 1977). Arnold mendapatkan Douglas Aircraft untuk mendirikan perusahaan pada tahun 1946 Proyek Rand (sebuah akronim untuk Penelitian dan Pengembangan) untuk belajar, "subyek luas antar-benua lain perang maka permukaan." Pada 1959 Helmer dan sesama Rand peneliti Rescher dipublikasikan sebuah karya mengenai "Epistemologi Ilmu dari tdk tepat," filosofis yang memberikan dasar untuk perencanaan (Fowles, 1978). Karya bahwa dalam bidang-bidang yang belum dikembangkan untuk memiliki sudut undang-undang ilmiah, kesaksian ahli yang dibolehkan. Masalahnya adalah bagaimana menggunakan dan kesaksian ini, secara khusus, bagaimana untuk menggabungkan kesaksian sejumlah pakar dalam satu pernyataan yang berguna. Delphi metode yang mengakui manusia sebagai keputusan yang sah dan berguna dalam memberikan masukan prakiraan. Single ahli kadang-kadang menderita biases; pertemuan kelompok menderita dari "ikuti pemimpin" tendensi dan keengganan untuk membuang sebelumnya menyatakan pendapat (Gatewood dan Gatewood, 1983, Fowles, 1978). Untuk mengatasi kekurangan ini dasar konsep yang Delphi metode, teori dan metodologi prosedur asumsi yang berkembang di tahun 1950-an dan 1960-an di Rand Corporation. Prakiraan tentang berbagai aspek dari masa depan yang sering diturunkan melalui koleksi ahli penghakiman. Dalkey dan Helmer mengembangkan metode untuk pengumpulan penghakiman tersebut untuk studi (Gordon dan Hayward, 1968).

Fowles (1978) menegaskan bahwa kata Delphi hallowed merujuk kepada situs yang paling bijaksana dituduh kuno di Yunani. Prakiraan dan konsultasi dari tuhan yang dicari melalui perantara di ramalan ini. Namun Dalkey (1968) menyatakan bahwa nama "Delphi" tidak pernah dengan istilah yang baik Helmer atau Dalkey (pendiri metode) yang khususnya senang. Dalkey (1968) mengakui bahwa ia agak musibah yang mengatur prosedur yang dikembangkan di Rand Corporation, dan dirancang untuk meningkatkan metode ramalan, datang ke dikenal sebagai "Delphi". Ia mengatakan bahwa Istilah berarti "sesuatu yg artinya, sesuatu cepak sedikit dari rahasia", sedangkan, sebagai kenyataan, tepat di seberang terlibat, tetapi terutama yang bersangkutan dengan melakukan yang terbaik dari yang Anda dapat kurang dari sempurna jenis informasi.

Salah satu aplikasi pertama dari Delphi metode dilakukan di pinggir Corporation itu terlihat dalam publikasi oleh Gordon dan Helmer (1964). Para Tujuannya adalah untuk menilai arah tren jangka panjang, dengan penekanan khusus di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mereka kemungkinan efek pada masyarakat. Studi ini meliputi enam topik: terobosan-terobosan ilmiah; populasi kontrol; otomatisasi; ruang kemajuan; perang pencegahan; sistem senjata (Gordon dan Helmer, 1968). Yang pertama adalah aplikasi Delphi di kawasan teknologi perencanaan dan bertujuan untuk meramalkan kemungkinan adakan, baru teknologi dan sosial ekonomi dan dampak perubahan teknologi (Adler dan Ziglio, 1996). Dalam hal teknologi peramalan, Levary dan Han (1995) negara tujuan dari Delphi sebagai metode untuk menggabungkan pendapat ahli tentang kemungkinan mewujudkan usulan teknologi serta pendapat ahli tentang pembangunan yang diharapkan dalam waktu satu posisi. Bila metode Delphi pertama kali diterapkan untuk perencanaan jangka panjang, potensi peristiwa masa depan dianggap satu per satu seolah-olah mereka untuk mengambil tempat di isolasi dari satu sama lain. Nantinya, konsep dampak lintas telah diperkenalkan untuk mengatasi kekurangan dari pendekatan ini simplistik (Helmer, 1977).

Menurut Wissema (1982), yang sayangnya Delphi metode ini kadang-kadang juga biasa digunakan untuk sebuah pertanyaan di antara sejumlah ahli. Delphi telah ditemukan dengan cara menjadi industri, pemerintah, dan akhirnya, academe. Ini sekaligus telah diperluas melebihi teknologi peramalan (Fowles, 1978). Sejak tahun 1950-an beberapa studi penelitian telah menggunakan metode Delphi, terutama dalam masalah kesehatan masyarakat (seperti, kebijakan untuk mengurangi penggunaan narkoba dan pencegahan AIDS / HIV) dan pendidikan daerah (Adler dan Ziglio, 1996; Cornish, 1977).

Dasar-dasar dari Delphi Metode

Delphi metode yang merupakan latihan dalam kelompok komunikasi antara panel secara geografis ahli (Adler dan Ziglio, 1996). Yang memungkinkan para ahli teknik sistematis untuk menangani masalah kompleks dengan atau tugas. Inti dari teknik ini cukup mudah. Ia terdiri dari serangkaian kuesioner dikirim baik oleh mail atau melalui sistem komputerisasi, untuk pra-ahli dipilih grup. Kuesioner ini dirancang untuk mendapat tanggapan dan mengembangkan individu untuk menimbulkan masalah dan untuk mengaktifkan ahli untuk memperbaiki mereka dilihat sebagai kelompok kerja berlangsung sesuai dengan tugas yang diberikan. Jalur utama di belakang Delphi adalah metode untuk mengatasi kekurangan konvensional komite aksi. Menurut Fowles (1978) kerahasiaan, dikontrol tanggapan, dan statistik respon ciri Delphi. Grup interaksi di Delphi adalah anonim, dalam arti bahwa komentar, prakiraan, dan sejenisnya tidak diidentifikasi sebagai pemula untuk mereka tetapi disajikan ke dalam kelompok tersebut sebagai cara untuk menyembunyikan apapun identifikasi.

Dalam proses Delphi asli, unsur utama adalah (1) struktur dari arus informasi, (2) umpan balik kepada para peserta, dan (3) kerahasiaan untuk peserta. Jelas, ini mungkin memberikan karakteristik berbeda dibandingkan dengan konvensional tatap muka konferensi sebagai alat komunikasi. Interaksi di antara ahli panel yang dikendalikan oleh panel direktur atau memantau menyiangi bahan yang tidak terkait dengan tujuan grup (Martino, 1978). Biasa masalah itu adalah dinamika kelompok bypassed sepenuhnya. Fowles (1978) menjelaskan sepuluh langkah-langkah berikut untuk Delphi metode:

1. Pembentukan sebuah tim untuk melakukan dan memantau Delphi yang diberikan pada subjek.

2. Pemilihan satu atau lebih panel untuk berpartisipasi dalam latihan. Customarily, ahli-ahli panel yang merupakan ahli di daerah yang akan melakukan penyelidikan.

3. Pengembangan tahap pertama Delphi kuesioner

4. Pengujian kuesioner yang tepat untuk kalimat (misalnya, ambiguities, ketidakjelasan)

5. Pengiriman pertama kuesioner kepada ahli-ahli panel

6. Analisa putaran pertama tanggapan

7. Persiapan putaran kedua kuesioner (dan mungkin pengujian)

8. Pengiriman putaran kedua kuesioner kepada ahli-ahli panel

9. Analisa putaran kedua tanggapan (Langkah 7-9 yang ditegaskan selama dikehendaki atau diperlukan untuk mencapai stabilitas dalam hasil.)

10. Penyusunan laporan oleh tim analisis untuk menyampaikan kesimpulan dari latihan

Delbecq dkk., (1975) menyatakan bahwa masalah paling penting dalam proses ini adalah pemahaman tujuan dari latihan Delphi oleh semua peserta. Jika tidak, ahli-ahli panel yang tidak menjawab Mei atau menjadi frustrasi dan kehilangan minat. Responden untuk kuesioner harus baik informasi yang sesuai di daerah (Hanson dan Ramani, 1988) tetapi literatur (Armstrong, 1978; Welty, 1972) menunjukkan bahwa tinggi tingkat keahlian tidak diperlukan. Minimum jumlah peserta untuk memastikan kinerja yang baik grup agak sedikit tergantung pada studi desain. Percobaan oleh Brockhoff (1975) mengemukakan bahwa dalam keadaan ideal, sebagai kelompok kecil sebagai empat dapat melakukan dengan baik.

Sebelum memutuskan apakah atau tidak Delphi metode yang harus digunakan, sangat penting untuk mempertimbangkan dengan teliti dalam konteks metode yang diterapkan (Delbecq dkk. 1975). Sejumlah pertanyaan harus ditanyakan sebelum membuat keputusan memilih atau penetapan yang Delphi teknik (Adler dan Ziglio, 1996):

Jenis grup proses komunikasi sangat dianjurkan untuk mengeksplorasi masalah di tangan?

Siapa saja orang dengan keahlian pada masalah dan di mana mereka berada?

Apakah teknik alternatif yang tersedia dan apa yang patut hasil dapat diharapkan dari mereka aplikasi?

Hanya ketika di atas pertanyaan akan dijawab satu dapat memutuskan apakah metode Delphi adalah sesuai dengan konteks di mana ia akan diterapkan. Adler dan Ziglio (1996) lebih lanjut menyatakan bahwa kegagalan ke alamat di atas pertanyaan dapat menyebabkan tidak patut untuk aplikasi Delphi dan mendiskreditkan seluruh upaya kreatif.

Hasil dari Delphi urutan tidak lain hanyalah pendapat. Hasil urutan sebagai hanya berlaku pada pendapat para pakar yang dibuat atas panel (Martino, 1978). Panel sudut pandang adalah daripada statistik diringkas dalam hal suara mayoritas.

Delphi metode yang telah mendapat kritikan serta dukungan. Yang paling lengkap kritik dari Delphi metode dibuat oleh Sackman (1974) yang mengkritik metode sebagai tdk ilmiah dan Armstrong (1978) yang telah menulis kritis dari akurasi. Martino (1978) menekankan fakta bahwa Delphi adalah metode terakhir Resor dalam menangani masalah sangat kompleks yang ada tidak memadai model. Helmer (1977) menyatakan bahwa kadang-kadang bergantung pada pertimbangan intuitif tidak hanya sementara bijaksana tetapi sebenarnya persyaratan yang wajib. Makridakis dan Wheelright (1978) merangkum umum keluhan terhadap metode Delphi dalam hal (a) rendahnya kemapanan penilaian antara ahli dan karena itu ketergantungan pada khususnya prakiraan hakim dipilih, (b) sensitivitas dari hasil ke dalam arti dua kuesioner yang digunakan untuk pengumpulan data dalam setiap satu putaran; dan (c) kesulitan dalam menilai tingkat keahlian dimasukkan ke dalam ramalan. Martino (1978) daftar utama keprihatinan tentang Delphi metode:

Diskon masa depan: Masa Depan (dan terakhir) ihwal tidak begitu penting saat ini, yang salah satu mungkin memiliki kecenderungan untuk masa depan acara diskon.

Menyederhanakan menyeru: Para ahli cenderung untuk menilai masa depan acara di isolasi dari perkembangan lainnya. A holistik melihat masa depan acara-acara dimana telah mengubah yg dpt mempengaruhi tidak dapat terlihat dengan mudah. Pada titik ini lintas-analisis adalah dampak dari beberapa membantu.

Pura-pura keahlian: beberapa ahli yang mungkin forecasters miskin. Expert cenderung menjadi spesialis dan pandangan yang akurat sehingga dalam pengaturan yang tidak satu yang paling sesuai.

Sloppy pelaksanaan: ada banyak cara untuk melakukan pekerjaan miskin. Pelaksanaan tugas Delphi proses Mei gembur perhatian yang diperlukan dengan mudah.

Format bias: harus diakui bahwa format kuesioner mungkin tidak cocok untuk beberapa potensi masyarakat peserta.

Manipulasi Delphi: tanggapan yang dapat diubah oleh Pemantau di harapan bergerak ke depan sepanjang tanggapan dalam arah yang dikehendaki.

Goldschmidt (1975) setuju bahwa ada banyak proyek Delphi buruk dilakukan. Namun, dia mengingatkan bahwa itu adalah sebuah kesalahan mendasar untuk menyamakan aplikasi dari Delphi metode dengan metode Delphi itu sendiri, karena terlalu banyak kritik lakukan. Ada, dalam kenyataannya, yang penting konseptual antara evaluasi teknik dan mengevaluasi aplikasi dari suatu teknik.

Di sisi lain ada beberapa studi (Ament, 1970; Wissema, 1982; Helmer, 1983) mendukung metode Delphi. Sebuah studi yang dilakukan oleh Milkovich dkk. (1972) melaporkan penggunaan metode Delphi tenaga kerja dalam perencanaan. Hasil perbandingan tinggi ditandai kesepakatan antara Delphi dan memperkirakan jumlah yang sebenarnya kurang disewa dan kesepakatan antara kuantitatif dan prakiraan nomor disewa. Studi lainnya oleh Basu dan Schroeder (1977) melaporkan hasil serupa dalam perencanaan masalah umum. Mereka Delphi dibandingkan perkiraan penjualan lima tahun dengan baik googling, prakiraan subyektif dan kuantitatif prakiraan yang digunakan analisis regresi eksponensial dan memperlancar. Delphi perencanaan yang terdiri dari tiga putaran menggunakan kunci 23 organisasi anggota. Bila dibandingkan terhadap penjualan sebenarnya untuk dua tahun pertama, kesalahan 3-4% dilaporkan untuk Delphi, 10-15% untuk metode kuantitatif, dan sekitar 20% yang sebelumnya digunakan untuk googling, prakiraan subyektif.

Secara umum, metode Delphi adalah berguna dalam menjawab satu, spesifik, satu-dimensi pertanyaan. Ada kurang mendukung untuk penggunaannya untuk menentukan kompleks prakiraan tentang beberapa faktor. Kompleks seperti model bangunan yang lebih tepat untuk model kuantitatif dengan Delphi hasil sebelumnya menjabat sebagai masukan (Gatewood dan Gatewood, 1983). Jalur ini didukung oleh Gordon dan Hayward (1968) yang menyatakan bahwa metode Delphi, berdasarkan pertimbangan koleksi ahli, menderita dari kemungkinan bahwa reaksi antara forecasted item mungkin tidak sepenuhnya dianggap. Kebutuhan untuk lintas dampak dari metode matriks perencanaan terpadu dengan metode Delphi adalah menunjukkan oleh banyak peneliti (Gordon dan Hayward, 1968; Gatewood dan Gatewood, 1983; Adler dan Ziglio, 1996). Peningkatan kehandalan melalui ramalan Delphi metode diajar untuk attainable dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya satu aktivitas dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan kemungkinan terjadinya peristiwa lain termasuk dalam survei (Helmer, 1978). Oleh karena itu dampak palang analisis telah dikembangkan sebagai perpanjangan Delphi teknik.


Selasa, 04 November 2008

Contoh Kasus KM

Ada seorang manajer IT yang tugas nya luar biasa banyak, ia harus menghadiri rapat
diluar kantor dengan klien, memimpin IT project, dan seorang kepala rumah tangga
yang baik. Tidak lama ia sadari kalau ia telah kewalahan dengan tugas-tugasnya yang
luar biasa banyak, memang tidak berat, tapi jadwal yang ketat membuatnya susah
bahkan untuk sebuah makan siang sekalipun. Jadi ia mulai mempelajari KM, kemudian
ia terapkan dalam profesinya.
Jadi beginilah solusinya, ketika ia menghadiri rapat dan seminar, ia diberi kartu nama
oleh kliennya. Kartu nama itu masing-masing ia kumpulkan, ia beri tulisan A pada
belakang kartu jika kartu nama itu bermanfaat bagi profesinya dan untuk kepentingan
perusahaan. Ia beri tulisan B jika ia merasa kartu itu akan bermanfaat suatu saat nanti,
mungkin bisa saja menjadi calon kliennya, atau bisa pula ia mengikuti seminar yang
diselenggarakan dari kartu itu. Ia beri tulisan C jika kartu tidak ada hubungannya sama
sekali baik dengan perusahaannya, kliennya, atau dirinya.
Ketika perusahaan menuntut ia untuk mendapatkan supplier untuk klien nya yang saat
ini, ia keluarkan kartu nama dari kategori B, untuk dihubungkan dengan kategori dari A
yang saat ini adalah kliennya. Kemudian ia harus mencari distributor, ia keluarkan
kembali kartu nama dari kategori A. Masalah untuk kantor telah selesai, kemudian sore
harinya, anaknya akan merayakan ulang tahun, ia pun mengeluarkan kartu nama dari
kategori C, yang berisi penyelenggara pesta, penjual souvenir, penjual bunga dan
sebagainya. Iapun tinggal menelepon, dan pesta ultah anaknya pun berlangsung sukses.
Ia selalu mencatat masalah yang muncul di setiap IT project yang dikerjakan staffnya
dalam sebuah buku. Ia menyimpan email-email dari staffnya yang bertanya, dan
memberikan solusi yang kadang di jawabnya sendiri , atau di jawab oleh staff lain.
Kumpulan masalah dan solusi ini, ia jadikan seperti sebuah FAQ. Terciptalah sebuah
pengetahuan perusahaan yang kompeten, jadi ketika ada masalah yang serupa, tidak
perlu dijawab lagi, karena telah ada di FAQ.
Kasus diatas adalah contoh yang mudah, dan itu adalah individual. Apakah bisa
pembaca bayangkan apabila sebuah perusahaan menerapkan cara ini untuk semua
staffnya ? perusahaan akan mengirit banyak uang seminar dan pelatihan, staff pizza hut
akan mengetahui jalan potong tercepat untuk mengantarkan pizzanya, konsultan tidak
akan berkerenyit lagi jika ada masalah serupa, perusahaan web hosting bisa melakukan
market research untuk meningkatkan mutu dengan mencatat setiap keluhan dan
masukan dari klien. Dan masih banyak keuntungan lain yang bisa didapatkan dari KM
Dalam sebuah program KM , yang menjadi pointnya adalah sistem pencarian yang
akurat. Apakah pembaca pernah mencoba www.google.com ? jadi ketika kita ingin
mencari tentang suatu solusi dari masalah tertentu, tinggal kita klik and search, atau
ingin mengetahui jalan potong tercepat? Gampang tinggal klik and search. Atau mau
tahu tentang jadwal penerbangan terbaru ? software agent akan mengirimkan ke email
kita.
Ada beberapa software yang telah mendukung KM,
• Lotus Notes
• Phpgroupware
• Phprojekt
• MS Project
Bisa pula dibangun dengan bahasa program tertentu kemudian digabung dengan
database yang handal yang mampu menangani pencarian kompleks, kemudian dipadu
lagi dengan program-program yang mempunyai kepintaran buatan, terakhir di polish
dengan interface yang memudahkan dan friendly bagi user maka akan jadi sebuah
sistem KM yang baru.
Jika perusahaan ingin menerapkan sistem KM, yang harus dipikirkan adalah
infrastruktur (hardware dan software) yang ada, biaya yang dikeluarkan, sistem reward
yang digunakan jika ada karyawan yang men-submit ilmunya, atau bisa juga ada sistem
punishment ? tapi tidak mungkin lah ada sistem punishment ini, karena para staff adalah
orang-orang bijakasana bukan ? Berbagilah pengetahuan, sebab jika pengetahuan
semakin diketahui oleh banyak orang, semakin kuatlah pengetahuan itu. Orang yang
berpikiran rendah, hanya akan mendapatkan hasil yang rendah, sedangkan orang yang
berpikiran tinggi akan juga mendapatkan hasil yang maksimal.

Apakah anda membutuhkan KM???????

Apakah anda membutuhkan KM?
Beberapa pertanyaan di bawah ini dapat membantu anda, apakah anda membutuhkan
KM.

• Apakah asset perusahaan anda terbengkalai ?
Sebuah informasi akan sangat susah didapatkan apalagi ketika sangat
diperlukan. Kenapa bisa demikian? Semakin keras berusaha, justru semakin
susah. Sebenarnya yang salah adalah caranya. Contoh: Jika ada klien property
mengeluh kenapa cat rumahnya gampang pudar, atau cepat sekali rontok ? anda
pasti akan kebingungan menjawabnya, karena menurut anda, saat pengecatan
sudah menggunakan cat terbaik. Tetapi anda lupa satu hal, anda bukanlah orang
yang melakukan pekerjaan mengecat tersebut. Jika anda mempunyai suatu
database, anda bisa menyimpan setiap informasi properti yang menggunakan cat
merk tertentu akan mudah rontok atau pudar yang jika dicat ke tembok yang
kualitas jelek, tapi cat itu akan bagus ketika dicat ke tembok yang kualitasnya
bagus.Jika anda tidak pernah melakukan hal seperti yang di atas, berarti anda
membuang asset berharga milik anda, yaitu pengetahuan tentang cat.
Jika pun anda pernah menyimpan suatu informasi, apakah informasi tersebut
bisa membantu anda memutuskan suatu pilihan, meningkatkan kualitas, dan
mempercepat produksi? Anda harus bisa menjawabnya


• Apakah pengetahuan di tempat anda tergantung dengan seseorang ?
Jika di perusahaan anda pimpin, ada seorang yang luar biasa pintarnya, ia adalah
asset berharga milik anda, selama ia ada, anda tidak akan takut masalah apapun.
Sebab anda memiliki seseorang yang sangat ahli dan kompeten dibidangnya.
Tapi apakah anda menyadari, apabila sang ahli misalnya mengundurkan diri,
atau sedang sakit, atau bahkan meninggal dunia, apa yang harus anda lakukan ?
mencari orang baru, memang bisa tetapi terlalu banyak menghabiskan waktu dan
biaya untuk melatihnya kembali, apalagi belum tentu orang baru ini seahli teman
lama kita. Knowledge sharing akan melakukannya untuk anda, yang mana
membuat pengetahuan tacit menjadi explicit.


• Apakah perusahaan anda selalu melakukan reinvestasi dibidang pelatihan
?
Perusahaan anda, ketika menerima karyawan baru, akan melakukan pelatihan
atau training untuk pengenalan produk misalnya. Terus anda harus melatihnya
kembali untuk menggunakan alat produksi, alat komunikasi dan sebagainya.
Melakukan pelatihan membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga kadang
dibutuhkan reinvestasi oleh perusahaan. Kenapa tidak anda melakukan suatu
perubahan misalnya, karyawan-karyawan yang telah dan pernah ditraining,
menulis seperti suatu jurnal kepada perusahaan, dan perusahaan menginputnya
kedalam database. Jadi ketika ada karyawan baru yang hendak ditraining, dia
bisa membaca jurnal tersebut, dan mengetahui siapa saja orang yang kompeten
dari kualitas jurnalnya.
Jika anda menjawab ya atas semua pertanyaan diatas, anda dianjurkan menggunakan
KM di perusahaan anda. Jika tidak, anda pasti akan mengeluarkan banyak biaya dan
waktu, memperlambat produksi, menurunkan kualitas.


Penerapan KM di TNI AD

Penerapan KM di TNI AD

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan tuntutan tugas pokok maka penerapan KM di lingkungan TNI AD merupakan suatu keharusan. Penerapan KM ini dapat diawali dari Lembaga Pendidikan (lemdik) TNI AD sebagai "gudang ilmu". Lemdik merupakan garda depan dalam mencetak sumber daya manusia TNI AD. Dari sinilah seluruh personel TNI AD yang mengawaki organisasi dibentuk. Penerapan KM di TNI AD saat ini masih dalam embrio dengan dimulainya sosialisasi dan komputerisasi bahan ajaran di semua Lemdik TNI AD. Diharapkan dengan dibuatnya bahan ajaran menggunakan teknologi informasi maka ketersediaan pengetahuan eksplisit menjadi tidak bermasalah karena tersedia dalam bentuk yang mudah diakses secara cepat dengan bantuan komputer. Dengan adanya akses yang cepat ini maka proses belajar akan menjadi lebih cepat dan efektif. Di samping itu diharapkan akan tumbuh budaya menulis di kalangan guru militer untuk selalu menuangkan ide dan hasil pengembangan ilmunya di dalam suatu tulisan yang dapat dijadikan bahan untuk pengembangan pengetahuan. Karena masih dalam tahap embrio dan baru akan dikembangkan maka perlu mempertimbangkan beberapa hal / langkah untuk implementasinya agar dapat berhasil dengan baik. Langkah-langkah tersebut meliputi :
a. Identifikasi pengetahuan yang ada (baik tacit maupun eksplisit) sehingga dapat diketahui peta pengetahuan dalam organisasi dan proses-proses atau kebiasaan yang terkait dengan pengelolaan pengetahuan.
b. Identifikasi infrastruktur yang ada, kita perlu melihat infrastruktur apa yang telah ada, misalnya koleksi hanjar, perpustakaan, intranet, media komunikasi internal, email, forum diskusi, digital library dan lain-lain. Setelah diperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan pengetahuan yang ada dan infrastrukturnya maka kita dapat memulai untuk membangun KM. Apabila KM akan diimplementasikan maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Penerapan teknologi.Pada tahap awal perlu menggunakan teknologi yang tepat, sederhana yang telah ada dan baru kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut. Sebagai misal untuk komputerisasi bahan ajaran dapat menggunakan teknologi sederhana yang biayanya relatif murah seperti menggunakan bentuk portable document format (PDF). Kebetulan software ini (Adobe Acrobat Reader) merupakan software yang dapat di download dengan gratis. Sementara front end nya menggunakan bentuk html yang dapat ditampilkan melalui internet explorer sebagai bagian dari Windows 98 ataupun Windows ME yang dibeli bersamaan dengan komputer baru (preloaded). Dengan demikian maka hal-hal yang berkaitan dengan masalah hak kekayaan intelektual (HAKI) tidak menjadi masalah pada saat awal penerapan KM ini. Setelah KM ini dapat berjalan dan diterima oleh pengguna maka baru kemudian dikembangkan menggunakan teknologi yang lebih baik dan memerlukan biaya yang relatif mahal tetapi sangat menolong bagi perkembangan organisasi.
b. Perubahan Budaya. Dapat dilakukan dengan membuat kebijakan dan anjuran. Ini merupakan hal yang penting karena budaya di TNI AD masih sangat bersifat paternalistik. Sehingga peran pimpinan akan sangat menonjol di dalam pemasyarakatan KM ini. Ini merupakan langkah yang menentukan karena keberhasilan KM merupakan penentu maju mundurnya organisasi.
c. Pembangunan fasilitas untuk berbagi pengetahuan (knowledge exchange). Perlunya dibentuk suatu tempat untuk memungkinkan tumbuh suburnya diskusi. Hal ini merupakan sarana bagaimana pengetahuan itu dapat dibagikan. Fasilitas tersebut sangat penting sebagai tempat dari aktifitas-aktifitas yang penting bagi proses penciptaan pengetahuan dan inovasi yang meliputi knowledge exchange, knowledge capture, knowledge reuse, dan knowledge internalization. Hal ini juga penting karena dapat digunakan sebagai sarana untuk menangkap pengetahuan yang sifatnya tacit.
d. Sosialisasi KM untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh personel. Hal ini merupakan suatu kunci keberhasilan dalam penerapan KM karena apabila KM ini dikenal oleh seluruh personel maka proses untuk menangkap pengetahuan ini akan dapat dilaksanakan dengan lebih baik.
e. Evaluasi keberhasilan penerapan KM. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran kinerja dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah dilaksanakannya KM.Sejauh Mana Keberhasilan Penerapan Konsep KM di TNI AD?Dari hasil pengenalan kepada semua Danpusdik dan pejabat terkait dengan bidang pendidikan di Mabesad pada rapat koordinasi tanggal 12 Agustus 2003, tampaknya konsep ini akan dapat dilaksanakan. Hal ini karena pada dasarnya setiap lemdik sudah mempunyai bahan ajaran dalam bentuk soft copy, sehingga yang perlu dilakukan adalah menyusun pengetahuan / bahan ajaran tersebut secara lebih sistematis dalam bentuk yang mudah diakses. Selama ini sudah tersedia bahan-bahan tersebut namun untuk dapat membukanya diperlukan keahlian menggunakan komputer (baik itu software pengolah kata, spreadsheet ataupun yang lain). Hal inilah yang menjadikan kendala bagi lemdik. Dengan demikian pada tahap awal yang perlu dilakukan adalah bagaimana membuat pengetahuan tersebut dapat diakses oleh para siswanya tanpa memerlukan pengetahuan komputer (computer literacy). Hal ini dapat dilakukan dengan membuat program kecil yang mampu mengoperasikan secara otomatis (autorun) compact disk (CD) yang dimasukkan ke dalam CD ROM drive komputer. Dengan adanya program kecil ini maka diharapkan para siswa akan mampu mengakses informasi dengan cepat melalui daftar informasi / menu yang ditampilkan oleh komputer dengan syarat yang penting mampu menggunakan mouse komputer.
Untuk menjamin keberhasilannya maka diperlukan suatu upaya untuk mewujudkan dengan melakukan evaluasi dengan disertai asistensi untuk merealisasikan pelaksanaan konsep KM ini. Untuk tahap pertama perlu dilaksanakan pilot proyek di salah satu lemdik. Perlu diyakinkan bahwa penerapan KM ini bisa berhasil sampai dengan implementasi dengan asistensi teknis sampai dengan selesai. Dalam konteks ini penulis optimis akan dapat dilakukan karena pada prinsipnya semua lemdik sudah mempunyai bahan ajaran dan tenaga operator komputer yang mampu mengerjakan tugas untuk menghimpun bahan ajaran dan dirangkaikan menjadi satu kesatuan.
Diharapkan apabila konsep ini dapat diterapkan dengan baik maka setiap siswa akan dapat memperoleh pengetahuan yang selama ini dalam bentuk buku menjadi dalam bentuk CD yang praktis dan mudah diakses. Dengan demikian dalam jangka panjang pengetahuan akan dapat diakses oleh semua siswa dengan lebih baik, dan pihak lemdik dapat mempersingkat waktu pendidikan. Implikasi dari konsep ini adalah lemdik akan dapat menjadi tempat yang lebih baik untuk menumbuhkan semangat kebangsaan karena waktu yang tersedia tidak dihabiskan semuanya untuk memberikan pelajaran yang semuanya sudah dihimpun dalam satu CD, tetapi dapat digunakan untuk memberikan pembekalan materi yang lain dalam rangka pembentukan mental yang lebih baik. Semoga konsep ini dapat dilaksanakan dalam waktu yang tidak lama lagi.


Selasa, 21 Oktober 2008

Knowledge Management di Indonesia

Kondisi “Knowledge Management” di Indonesia

Sektor Pemerintahan
Untuk sektor pemerintahan, Knowledge Management (KM) adalah sebuah hal yang baru. Organisasi di pemerintahan tidak siap dengan konsep KM. Kenapa pemerintah tidak siap untuk mengadopsi konsep KM ke dalam organisasinya? Karena KM ini mengharuskan pemerintah transparan dalam berbagai hal. Contohnya saja dalam pengelolaan, penggunaan, dan pengawasan keuangan negara, akibat tidak adanya transparansi maka pelanggaran khususnya korupsi dan penyalahgunaan anggaran negara semakin merajalela.
Setiap departemen yang terdapat dalam pemerintah saling menyembunyikan sistemnya, walaupun sekarang ini beberapa departemen telah melakukan transparansi. Hal ini yang membuat sistem yang terdapat dalam masing-masing departemen tidak terintegrasi yang menyebabkan sulitnya pengembangan KM di indonesia. Apabila, sistem yang terdapat dalam departemen pemerintahan saling terintegrasi, maka tidak mungkin hal seperti di atas dapat terjadi. Selain itu, dengan data yang benar maka pemerintah dapat pula mengawasi, melindungi dan melayani penduduknya dengan baik.
Ada beberapa departemen dan perusahaan BUMN yang telah melakukan KM. Contoh departemen keuangan yang telah meluncurkan website pajak untuk melayani masyarakat. Dimana dalam website ini memberikan berbagai macam informasi seputar pajak, baik itu cara mendaftarkan diri dan cara membayar pajak. Ini adalah salah satu bentuk peningkatan KM.
Untuk dunia pendidikan pemerintah harus lebih memperhatikan lagi KM-nya. Karena dalam pendidikan setiap kali terjadi pergantian presiden, maka kurikulum pun berganti. Hal ini tidak memberikan perkembangan yang baik. Karena seharusnya perkembangan tersebut bukan merupakan suatu pergantian. Tapi dalam pendidikan juga bisa di lihat adanya KM. Terlihat di luncurkannya website pendidikan di mana berisikan informasi mengenai sistem pendidikan layanan pendidikan.

Sektor Usaha

Perkembangan KM pada sektor usaha lebih maju. Karena konsep KM yang berada di indonesia di bawah oleh perusahaan-perusahaan Multinasional yang telah terlebih dahulu melakukan KM di tubuh perusahaannya. Karena mereka tahu manfaat KM untuk kemajuan perusahaan sangat besar. Untuk perusahaan lokal juga hanya beberapa yang telah mengadopsi konsep ini. Kenapa konsep ini belum begitu populer di kalangan perusahaan lokal? Karena mereka belum merasakan manfaat dari KM sendiri.
Untuk itu, pemerintah harus memberikan peranan aktif untuk mendorong penggunaan konsep KM di kalangan perusahaan lokal.

Sektor Pariwisata
Dalam Sektor pariwisatapun telah mengadopsi konsep KM. Walaupun baru berjalan beberapa tahun terakhir ini. Contohnya dengan melakukan program visit indonesia, meluncurkan website pariwisata dan diluncurkannya berupa mesin atm yang memberikan informasi mengenai daerah pariwisata tersebut.

Knowledge Management

MANAJEMEN PENGETAHUAN
(KNOWLEDGE MANAGEMENT)


Pendahuluan

Alvin Toffler membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang yaitu era pertanian, era industri dan era informasi. Dalam era pertanian faktor yang menonjol adalah Muscle (otot) karena pada saat itu produktivitas ditentukan oleh otot. Dalam era industri, faktor yang menonjol adalah Machine (mesin), dan pada era informasi faktor yang menonjol adalah Mind (pikiran, pengetahuan). Pengetahuan sebagai modal mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan kemajuan suatu organisasi. Dalam lingkungan yang sangat cepat berubah, pengetahuan akan mengalami keusangan oleh sebab itu perlu terus menerus diperbarui melalui proses belajar.
Belajar dalam era pengetahuan seperti sekarang ini sangatlah berbeda dengan belajar di masa lalu. Saat ini kita dituntut untuk belajar baik sendiri maupun bersama dengan cepat, mudah dan gembira, tanpa memandang waktu dan tempat. Hal ini mendorong berkembangnya konsep organisasi belajar (learning organization) yang menyatukan antara proses belajar dan bekerja. Disisi lain pengetahuan yang melekat pada anggota suatu organisasi juga perlu diuji, dimutahirkan, ditransfer, dan diakumulasikan, agar tetap memiliki nilai. Hal ini menyebabkan para pakar manajemen mencari pendekatan untuk mengelola pengetahuan yang sekarang dikenal dengan manajemen-pengetahuan atau knowledge management (KM).
Suatu organisasi agar dapat mencapai visi dan misinya harus mengelola pengetahuan yang dimilikinya dengan baik agar dapat bersaing dengan organisasi yang lain. Salah satu cara tersebut adalah dengan menerapkan manajemen-pengetahuan atau KM. Tidak terkecuali TNI AD sebagai organisasi, untuk menghadapi persaingan dan tuntutan yang semakin tinggi memerlukan penerapan manajemen pengetahuan agar selalu dapat menjawab setiap tuntutan tugas.

Pengertian KM

Sebelum memahami konsep manajemen pengetahuan ini ada beberapa istilah yang harus dipahami yaitu : data, informasi, pengetahuan, jenis pengetahuan, dan manajemen pengetahuan itu sendiri. Di samping itu perlu pula memahami proses pembentukan pengetahuan dari data, informasi, kemudian menjadi pengetahuan.
a. Data adalah kumpulan angka atau fakta objektif mengenai sebuah kejadian (bahanmentah informasi).
b. Informasi adalah data yang diorganisasikan/diolah sehingga mempunyai arti. Informasi dapat berbentuk dokumen, laporan ataupun multimedia.
c. Pengetahuan (knowledge) adalah kebiasaan, keahlian/kepakaran, keterampilan, pemahaman, atau pengertian yang diperoleh dari pengalaman, latihan atau melalui proses belajar. Istilah ini sering kali rancu dengan Ilmu Pengetahuan (science). Ilmu Pengetahuan adalah ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau dibuktikan kebenarannya; sedangkan pengetahuan belum tentu dapat diterapkan, karena pengetahuan sebuah organisasi sangat terkait dengan nilai, budaya, dan kondisi dari organisasi tersebut.
d. Jenis Pengetahuan. Ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan eksplisit dan pengetahuan tacit. Pengetahuan eksplisit dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data, spesifikasi, dan buku petunjuk, sedangkan pengetahuan tacit sifatnya sangat personal yang sulit diformulasikan sehingga sulit dikomunikasikan kepada orang lain.
1) Explicit Knowledge. Bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/terformalisasi, mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari. Contoh: manual, buku, laporan, dokumen, surat dan sebagainya.
2). Tacit Knowledge. Bentuk pengetahuan yang masih tersimpan dalam pikiran manusia. Misalnya gagasan, persepsi, cara berpikir, wawasan, keahlian/kemahiran, dan sebagainya.
e. Manajemen pengetahuan (KM) Definisi mengenai KM tergantung dari cara organisasi menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan. Organisasi intelejen militer akan mempunyai definisi yang berbeda mengenai pengetahuan dibandingkan dengan perusahaan. Salah satu definisi KM adalah proses sistematis untuk menemukan, memilih, mengorganisasikan, menyarikan dan menyajikan informasi dengan cara tertentu yang dapat meningkatkan penguasaan pengetahuan dalam suatu bidang kajian yang spesifik. Atau secara umum KM adalah teknik untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi untuk menciptakan nilai dan meningkatkan keunggulan kompetitif.

Apakah itu manajemen pengetahuan ?

Manajemen, ialah suatu cara untuk merencanakan, mengumpulkan dan mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya untuk suatu tujuan. Sedangkan pengetahuan adalah data dan informasi yang digabung dengan kemampuan, intuisi, pengalaman, gagasan, motivasi dari sumber yang kompeten. Sumber pengetahuan bisa berupa banyak bentuk, contoh, Koran, majalah, email, e-artikel, mailing list, e-book, kartu nama, iklan, dan manusia.
Jadi untuk pengertian manajemen pengetahuan adalah merencanakan, mengumpulkan dan mengorganisir, memimpin dan mengendalikan data dan informasi yang telah digabung dengan berbagai bentuk pemikiran dan analisa dari macam-macam sumberyang kompeten.
Menurut www.km-forum.org KM adalah suatu disiplin ilmu yang digunakan untukmeningkatkan performa seseorang atau organisasi, dengan cara mengatur dan menyediakan sumber ilmu yang ada saat ini dan yang akan datang. Jadi KM bukanlah suatu fenomena baru, tetapi merupakan suatu cara yang menerapkan integrasi antara teknologi dengan sumber pengetahuan yang kompeten.

Aliran Pengetahuan dan Interaksinya

Mengatur suatu pengetahuan adalah suatu kebiasaan atau habit. Ketika suatu proses,keadaan dan aktivitas suatu bisnis para pelaku KM cenderung menggunakan suatu metode dalam menganalisanya. Dalam proses analisa terdapat sesuatu yang dinamakan siklus/aliran pengetahuan (Knowledge flow).
• Penciptaan pengetahuan (creation)
Tahap memasukkan segala pengetahuan yang baru kedalam sistem, termasuk juga pengembangan pengetahuan dan penemuan pengetahuan.
• Penyimpanan pengetahuan (retention)
Ini adalah tahap penyimpanan pengetahuan kedalam sistem agar pengetahuan selalu awet. Proses ini juga menjaga hubungan antara pengetahuan dengan sistem.
• Pemindahan pengetahuan (transfer)
Menyangkut dengan aktifitas pemindahan pengetahuan dari satu pihak ke pihak lain. Termasuk juga dengan komunikasi, penerjemahan, konversi, penyaringan dan pengubahan.
• Penggunaan pengetahuan (utilization)
Kegiatan yang berhubungan dengan aplikasi pengetahuan sampai pada proses bisnis, termasuk dalam tahap penggunaan pengetahuan.
Alat-alat pengetahuan bisa dalam berbagai bentuk, misalnya : dokumen, kertas, buku,percakapan, koran, email, papan iklan, lukisan, imajinasi, dan apapun bentuknya yangbisa dimengerti dan yang mempunyai arti.

Macam-Macam Bentuk Pengetahuan

• Pengetahuan implicit / tacit adalah pengetahuan yang susah dijabarkan dengan kata-kata, istilah gampangnya, apa yang ada di otak manusia susah untu diucapkan di mulut. Menurut Michael Polanyi, “Knowing more than saying”, mengetahui lebih dari pada yang diucapkan. Contoh : apa rasa dari cappuccino Italia ? Bagaimana penampilan orang itu ? bagimana pemandangan gunung
alpen ? bagaimana rasanya jatuh cinta?
- Pengingatan
- Penyimpanan
- Penciptaan
- Pembuatan
- Pemindahan
- Transfer
- Penggunaan
- Pemanfaatan
• Pengetahuan explicit adalah pengetahuan yang bisa dijabarkan dengan kata-kata,
atau rumus dan langsung ditransfer secara lengkap kepada orang lain yang bisa
saja didengar, dilihat, dirasa, disentuh. Contoh : buku, laporan, koran, lukisan
dan lain-lain.

Agent

Alat-alat pengetahuan yang disebut diatas tidak bisa begitu saja memutuskan suatu pilihan dan aksi. GIGO garbage in garbage out, itu lah istilah untuk suatu sistem komputer, tanpa ada input yang beerguna tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna pula. Yang mengambil keputusan dan aksi adalah orang, organisasi, dan teknologi. Untuk orang dan organisasi dengan menganalisa suatu pengetahuan, mengambil sisi baiknya, digabungkan dengan ide dan pengalaman masing-masing maka jadi sebuah ilmu baru. Bagaimana dengan teknologi ? teknologi ini dikenal dengan sebutan agent. Agent adalah sebuah program kecil yang mempunyai kecerdasan buatan (AI) untuk mengambil suatu keputusan dan aksi tertentu. Agent terbagi 3 yaitu :


Individual agent

Individual yang dimaksud disini adalah manusia, yang pasti akan selalu ada dalam
setiap aliran pengetahuan. Manusia sudah tentu tidak memerlukan kecerdasan buatan, sebab dia sendiri adalah pusat hampir dari seluruh ilmu pengetahuan. Agent ini mempunyai keterbatasan, waktu yang sempit, ingatan yang sudah mulai menumpul tetapi mempunyai jangkauan paling luas dalam aliran pengetahuan, selau eksis didalam aliran pengetahuan.

Automated agent

Adalah agent yang mempunyai kecerdasan buatan, yang memang sebisa mungkin
dibuat semirip kecerdasan manusia. Agent ini adalah suatu program kecil, contoh paling gampang adalah email rules atau email filter pada yahoo. Program kecil yang mampu memfilter email dari mana, siapa yang boleh masuk, siapa yang tidak boleh masuk, kemudian mengambil suatu aksi tertentu. Atau agent yang mampu mencari harga tiket pesawat terbang termurah dari Jakarta ke sinapura dari seluruh tour dan travel di Jakarta. Inti dari agent ini adalah, kecerdasan buatan.

Organizational agent

Agent ini akan ada jika ilmu yang ada tidak mampu melengkapi invidual agent dan automated agent. Yang pasti agent ini bermain dengan pengetahuan tacit, aturan lisan, dan budaya suatu lokasi. Lebih mudahnya, agent ini adalah kumpulan dari individual agent.

Bagaimana Membuat Suatu KM?

1. Bangun infrastruktur dengan teknologi yang tepat
Teknologi yang tepat, bukan berarti teknologi yang digunakan adalah teknologi tinggi. Tepat berarti sesuai dengan kebutuhan, sesuai dengan usaha yang anda lakukan sekarang dan tidak membuang-buang biaya. Teknologi ini bisa saja seperti komputer dan jaringan internet, lihat kembali di alat-alat pengetahuan.
2. Bangun sebuah infrastruktur konseptual dengan tulang punggung kompetensi Teknologi yang tepat juga tidak akan berguna apabila anda tidak mempunyai konsep atau visi yang sesuai dengan tujuan perusahaan. Dan tulang punggung yang kompeten adalah orang-orang yang mempunyai ilmu, keahlian, pengalaman, kecepatan bertindak, dan bersosialisasi.
3. Buat suatu tempat penyimpanan dan hal-hal yang menyangkutnya Tempat penyimpanan bisa saja berupa gudang, perpustakaan, arsip, database, file. Dan dibantu dengan alat-alat yang mempermudah pencarian.
4. Ciptakan standar tinggi untuk kualitas dan kegunaannya
Anda harus membuat suatu aturan, yaitu hanya ilmu yang berguna sajalah yang akan anda disimpan di gudang pengetahuan anda, jangan sampai sampah informasi juga anda masukkan kedalamnya. Dan pastikanlah kalau aturan ini sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Siapa Saja Yang Terlibat dalam KM ?

Seperti yang telah disebut diatas, sumber yang kompeten, dan digunakan untuk suatu tujuan, seperti kemajuan perusahaan. Dibutuhkan juga seseorang untuk mengaturnya, yang dikenal dengan CKO (Chief Knowledge Officer). Di dalam KM ada suatu istilah yang disebut Knowledge sharing, atau saling berbagi pengetahuan. Untuk saling berbagi, diperlukan suatu wadah, bisa berbentuk web, forum, milis dan lainnya. Yang paling populer adalah web. Didalam wadah inilah para penggunanya saling berbagi ilmu, tidak peduli dengan ilmunya tentang apa, yang penting berbagi. Contoh paling nyata adalah www.ilmukomputer.com .

Apa Saja Yang Dibutuhkan untuk KM ?

Jawaban termudah adalah sumber daya manusia dan teknologi. Tanpa 2 hal ini tidak akan ada sebuah KM yang ada hanya knowledge individual. Teknologi dalam hal ini sangat membantu banyak, dengan kemampuan database, metode searching, automated
agent, e-forum dan e-mail, akan sangat membantu menciptakan sebuah sistem yang baik. Walaupun kadang-kadang sebuah buku organizer cukup membantu seseorang dalam schedulingnya.

Manajemen Pengetahuan dan Teknologi Informasi (TI)

Sebenarnya konsep pengelolaan pengetahuan merupakan konsep lama, perbedaannya KM memungkinkan kita untuk tidak perlu memulai segalanya dari nol lagi. (We don't have to always reinventing the wheel ). Konsep KM ini menjadi populer karena kompetisi yang kian tajam dalam memperoleh keunggulan. Ketatnya kompetisi menyadarkan orang bahwa hanya penguasaan pengetahuanlah yang akan menentukan keunggulan suatu organisasi. Keunggulan pada saat ini dirumuskan dalam formula: faster, cheaper and better. Kalau saja kita hanya melakukan sesuatu untuk organisasi agar lebih baik dan lebih efisien maka kita akan tertinggal. Bill Gates menyatakan "If the 1980's were about quality and the 1990's were about re-engineering, then the 2000's will be about velocity". Jadi kalau kita berbicara mengenai keunggulan dalam era 2000 an kita berbicara kecepatan (velocity). Untuk dapat mencapai kecepatan maka penggunaan teknologi informasi merupakan suatu keharusan.
KM terdiri dari 3 komponen utama yaitu people, place, dan content. KM membutuhkan orang yang kompeten sebagai sumber pengetahuan, tempat untuk melakukan diskusi, dan isi dari diskusi itu sendiri. Dari ketiga komponen tersebut peran teknologi informasi adalah mampu menghilangkan kendala mengenai tempat melakukan diskusi. TI memungkinkan terjadinya diskusi tanpa kehadiran kita secara fisik. Dengan demikian kapitalisasi pengetahuan dapat terus diadakan walaupun tidak bertatap muka. Dalam konteks secara umum, pelaksanaan KM menghadapi masalah utama yaitu masalah perilaku. Pertama, berkaitan dengan ketidakmauan orang untuk berbagi. Kedua berkaitan dengan ketidakdisiplinan untuk selalu menuliskan apa yang kita dapatkan. Ini merupakan suatu kendala karena budaya kita lebih cenderung pada budaya lisan. Kita belum bisa mendisiplinkan diri untuk selalu menuliskan pengetahuan dan pengalaman yang kita alami dalam suatu sistem sebagai suatu aset organisasi.
Dalam pelajaran manajemen, aset organisasi dirumuskan dengan 5M (man, money, method, machine, dan market). Apabila dipandang dari sisi KM maka manusialah yang merupakan aset yang paling berharga. Tetapi, benarkah semua orang dalam organisasi merupakan aset organisasi? Thomas A. Stewart dalam bukunya Intelectual Capital, secara tegas mengatakan "tidak". Menurut Stewart, yang benar-benar aset hanyalah orang-orang tertentu, yang pekerjaannya berkaitan dengan penambahan pengetahuan dalam organisasi, yaitu The Stars. (Stewart membagi karyawan dalam empat kelompok yaitu: pekerja biasa; pekerja terampil tetapi bukan faktor penentu; pekerja yang melakukan hal yang dihargai oleh pelanggan tetapi dapat di outsource; dan the Stars, yaitu orang-orang dengan peran yang tidak tergantikan sebagai individu). Sebagai contoh kelompok the Stars, salah satunya adalah peneliti. Mereka yang termasuk kelompok keempatlah yang benar-benar merupakan aset bagi organisasi. Organisasi perlu memberikan perhatian penuh pada kelompok ini, karena di tangan merekalah masa depan organisasi. Persoalannya, bagaimana memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga dapat terakumulasi dan akhirnya menjadi aset organisasi.








Senin, 20 Oktober 2008

Minggu, 23 Desember 2007

HARD MODS

HARD MODS
Dl masa awal terbentuk Mods, ada satu faham yang rada berbeda dengan paham Mods pada umumnya. Faham ini sering disebut Hard Mods, yang nantinya berevolusi menjadi Skinheads generasi awal.
Penganut Hard Mods yang memiliki cirri potongan rambut pendek, lebih keras dan tangguh. Maklum, kebanyakan dari mereka datang dari kelas pekerja.
Potongan rambut pendek ini dipilih karena dua alasan. Yang pertama jelas karena tuntutan pekerjaan. Alasan kedua adalah lebih praktis pas berantem di jalanan.
Kalangan inilah yang mempertahankan elemen dasar dari fashion. Mods. Mereka terus menggunakan jas berkancing tiga, kemeja/polo shirt bermerek Fred Perry dan Ben Shermans, celana Sta-Prest, dan juga jins Levi's. Semua itu dipadukan dengan fashion item yang biasa dipakai oleh kelas pekerja. Kayak sepatu boots Dt. Martens.
Selain itu, kaum Hard Mods ini juga banyak mengambil ide dari styfe-nya Rude Boy. Musik yang mereka dengarkan emang nggak jauh-jauh dari produk Jamaika. Kayak ska, soul, rocksteady dan reggae. Generasi awal Skinheads ini merupakan representasi kaum pekerja dan sama sekali nggak ada hubungannya sama pergerakan politik fasis ala Neo Nazi.

MODS DI AMRIK


MODS DI AMRIK
Gaung Mods Revival juga sampai ke Amerika Utara. Pada awal ’80-an, the Untouchables, sebuah band yang berasal dari California bagian selatan, muncul sebagai eksponen awal.
Scene Mods lantas tumbuh besar di Los Angeles dan Orange Country. Cuma saja, scene yang berkembang di sini mengambil pengaruh dari Two Tone ska revival. Jenis musik yang disukai kaum Hard Mods.
Uniknya, golongan ini sedikit resialis, Jack! Pahamnya rada beda dengan Mods asli. Sepertinya, Mods di Amrik cenderumg mengarah ke Hard Mods yang merupakan cikal bakal Skinheads di bumi Eropa.
Saat ini, scene Mods sudah menyebar secara luas ke seluruh penjuru Amerika Bahkan sampe ke Kanada.